Beranda Daerah Kembangkan Budaya Gantao, Kades Taloko Adu Ketangkasan di Acara Pernikahan Warga

Kembangkan Budaya Gantao, Kades Taloko Adu Ketangkasan di Acara Pernikahan Warga

4
0

Foto : Kades Taloko Kasim Jae (baju warna kuning ) dan Ketua RT Mursalim ( baju warna abu- abu)

BIMA, LintasRakyat.Net – Masyarakat Desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, terlihat masih mengembangkan serta mempertahankan kebudayaan Mpaa Gantao (Main Gantao) di setiap hajatan masyarakat seperti pernikahan, sunatan, dan khataman Al- Quran.

“Tari Gantao ini adalah salah satu jenis tarian adu ketangkasan yang sangat menarik. Selain menjadi hiburan dan tontonan, namun juga memiliki makna  dalam kehidupan berbudaya Bima,” ungkap tokoh Gantao Desa Taloko, Hasim Jakariah kepada LintasRakyat.Net di acara hajatan persiapan perkawinan seorang putri Syamsudin Toib, Minggu (13/6/2021) pagi.

Pria sapaan Ompu Heso ini mengatakan, berdasarkan cerita orang- orang terdahulu, atraksi kesenian ini tumbuh dan berkembang di luar lingkungan istana dan lazim dikenal tarian rakyat. Meskipun demikian, namun sultan melalui para seniman istana tetap mempertahankan pertumbuhan dan perkembangannya. Mutunya tetap terpelihara dan terpacu pada nilai norma agama dan adat yang islami.

“Kalau latar belakangnya sih, saya belum tahu dengan jelas. Namun, menurut cerita orang tua terdahulu salah satunya paman saya yang tutup usianya sekitar 130 tahun biasa disapa Ompu Maani (alm) bahwa Tari Gantao ini berasal dari Sulawesi Selatan yang namanya kalau gak salah ‘Kuntao’, dan itu yang sempat saya dengar dari paman saya kala dia masih hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut Ompu Heso, menurut cerita lagi bahwa Mpaa Gantao ini dimainkan pada saat Islam masuk di tanah Bima. Mula-mula tarian yang yang dikenal masyarakat Bima dengan Gantao ini dimainkan oleh para pedagang dari Sulawesi untuk mengumpulkan masyarakat agar barang dagangannya laris terjual. 

“Ya, selain itu sambil berdagang saudagar-saudagar itu menyebarkan ajaran Islam di tanah Bima. Sebab memang sebelumnya Dou Mbojo (orang Bima) masih menganut ajaran Makamba Makimbi (Animisme dan Dinamisme).

“Ya, sehingga dengan lewat pertunjukan Mpa’a Gantao ini ajaran Islam mudah masuk di tanah Bima karena dalam permainan rakyat tersebut mengadung nilai-nilai filsafat Islam yang identik dengan paradigma para spiritual Bima,” terang seorang paman Ketua Media Independen Online (Mio- Indonesia) Kab Bima asal Desa Taloko itu.

Di tempat yang sama, Ahli Gendang Ahmad Zain mengatakan, Tari Gantao adalah salah satu kesenian masyarakat yang telah tumbuh dan berkembang sejak jaman kesultanan Bima. Kalau tak salah ingat dari cerita para petuah juga yang sekarang telah tiada bahwa tarian ini penuh dengan atraksi kesenian tumbuh dan berkembang sejak jaman pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin sekitar tahun 1648-1685.

“Atraksinya benar- benar menghibur dan menginspirasi kalangan terlebih masyarakat pesisir. Tarian ini memang unik dan menarik, selain dimainkan oleh
dua orang penari, ragam geraknya sama dengan ragam gerak Mpaa Sila (Main Silat), tetapi dimainkan dalam irama yang begitu cepat, begitu pula musik pengiringan iramanya lebih cepat ketimbang Mpaa Sila. Alat musik pengiringnya adalah dua buah Genda Mbojo (Gendang Bima), tawa-tawa, Gong serta alunan serunai khas Mbojo (Khas Bima) yang disebut “Sarone” (Suling), dalam satu grup Mpaa Gantao terdiri dari lima orang pemain musik dan dua orang pemain Gantao,” paparnya.

Mpaa Gantao, kata dia, adalah seni bela diri yang ada pada masyarakat  Bima. Mpaa Gantao ada dua bagian, ada penari dan pemain musik yang mengiringi penari Gantao. Penari Gantao harus berpasangan dan tidak boleh tidak berpasangan.

Mpaa Gantao pertama kali dimainkan di tanah Bima oleh seorang perempuan dan perempuan mengadakan syambara kala itu juga.  Perempuan itu menantang laki-laki Bima untuk adu kekuatan dan ketika ada laki-laki yang mampu mengalahkan, maka perempuan itu siap dinikahi oleh laki-laki yang ditantangnya itu.

“Dulu, Mpaa Gantao memiliki beberapa ritual, namun sekarang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam sehingga bermain biasa saja dan menghibur masyarakat seperti yang barusan kita tonton permainan Pak Kades Kasim Jae dengan Pak Ketua RT Mursalim, kita tadi terhibur kan? Ya, kurang lebihnya paparan saya ini harap dimaklumi saja karena saya hanya sekelumit cerita,” pungkas pria yang pernah pecahkan rekord dalam atraksi pemukulan gendang di Kab. Bima beberapa tahun lalu sapaan akarabnya Pak Hima itu. (Habe- LR)

Artikel sebelumyaPersami Pramuka SWK Korem 162/WB Ditutup, Ini Harapan Danrem
Artikel berikutnyaAR Asal Desa Rada Jadi Tersangka dan Ditahan di Polsek Bolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here