Beranda Headline Diduga Serobot Tanah Korban, Inisial IS Enggan Diproses Polres Sumbawa

Diduga Serobot Tanah Korban, Inisial IS Enggan Diproses Polres Sumbawa

3
0

SUMBAWA BESAR, LintasRakyat.Net –Laporan/pengaduan penyerobotan tanah Nurhayati (korban, red) diduga dilakukan inisial IS asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, belum ditindak serius oleh aparat kepolisian setempat. Hal itu dikatakan Nurhayati, ke awak media Lintasrakyat.net, Jumat (7/5/2021).

Nurhayati mengatakan, pengaduan melalui Unit Sat Reskrim Pidana Umum Polres Sumbawa, pada 31 Maret 2021, jangankan inisial IS yang diperiksa oleh penyidik, saksi saja tidak. Sementara pengaduan hampir tiga bulan diterimanya.

“Kami minta penyidik untuk bertindak secara profesional atas pengaduan yang kian lama disampaikan itu,” kata Nurhayati.

Nurhayati menjelaskan, pengaduan penyerobotan tersebut, yakni penyerobotan terhadap obyek tanah sesuai sertipikat nomor M- 2532, dengan luas 7,78 are M per segi, di lokasi PPN Raberes samping warung Bakso Erma Arah ke Moyo Utara, yakni tanah yang dibeli dari bapak Fatahollah M. Noor, sejak tahun 2012 silam.

“Ya, setelah saya membeli tanah itu, saya kembali ke Iku Maluk. Tahun 2019, kami menetap di Sumbawa Besar (BTN Graha Satelit). Tahun 2020, kami berencana ingin menjual tanah ini, tetapi orang yang membeli mengatakan “kalau tanah ini punya orang lain”, dan kami tidak mengusutnya saat itu karena ada sertipikat asli yang masih kami kantongi,” jelas Nurhayati.

Pada 16 Februari 2021, lanjut Nurhayati, kebetulan bersama keluarga lewat di jalan Raberas, sontak melihat tumpukan batu dan pasir dan berpikir kalau itu adalah orang yang hanya numpang taruh bahan saja. Keesokan harinya lagi melihat sudah ada tukang yang sedang mengerjakan fondasi bangunan, langsung meminta bertemu dengan orang yang membuat sebuah bangunan itu, yakni bapak Sendi. Bapak Sendi pun mengaku bahwa tanah itu telah dibelinya dari terduga pelaku inisial IS, dengan harga senilai Rp120 juta, seluas 6 M per segi dengan kwitansi dan materai.

“Ya, saat itu juga kami tunjukan foto copy sertipikat sebagai bukti kepemilikan tanah kami. Meski kami telah tunjukan foto copy sertipikat, tetapi bapak Sendi tetap bersikeras menyatakan tanah dibelinya dari inisial IS. Padahal alas hukum mereka tidak ada,” jelasnya lagi Nurhayati.

Ironisnya lagi, lanjut Nurhayati, saat itu juga bapak Sendi sontak menyebut juga kalau sertipikat ini dibawa ke BPN, maka langsung dirobek karena sertipikat sudah tidak berlaku lagi.

“Akibat kami kesal dengan ancaman bapak Sendi itu, lalu pada 18 Februari, kami ke Kantor BPN, guna memastikan kedudukan hukum sertipikat kami. Dan olehnya petugas BPN, sarankan kami untuk ajukan rekonstruksi ulang pal/batas,” ungkap Nurhayati.

Tak henti di situ, lanjut Nurhayati, pada 22 Februari siang, bersama suami menuju ke Moyo Utara, lewat jalan Raberas, tiba- tiba ada baruga di atas tanah sebelah, lalu kita mampir dan menghampiri mereka.

“Ya, ternyata yang membangun baruga di sebelah tanah kami itu, adalah pembeli yang lain lagi kepada terduga pelaku inisial IS, dengan harga senilai Rp80 juta, seluas 4 are,” ujar Nurhayati.

Menurut pengakuan pembeli, tambahnya Nurhayati, bahwa tanah seluas itu, dibelinya dengan bukti kwitansi dan materai. Nurhayati didampingi suaminya mengaku bertanya pada bapak Sendi, adakah sertipikat diserahkan inisial IS itu? Meraka pun menjawab “sedang dibuat sprodiknya”, dan Nurhayati langsung tunjukan sertipikat tanahnya. Namun, mereka tetap berdalih kalau mereka sudah membeli dari inisial IS.

“Karena pembeli itu sudah melihat sertipikat yang kami tunjukan, pembeli pun sontak menelepon inisial IS, guna meminta penjelasan tentang status dan kedudukan tanah kami itu. Dalam dialog via HP keduanya, olehnya inisial IS, menyuruh pembeli untuk tidak menggubris kami. Karena kami tak mau bertengkar, kami langsung pulang. Karena kami memiliki sertipikat tanah ini,” tutur Nurhayati.

Lalu, pada 18 Maret, pihaknya bersama inisial IS, dan pembeli dimediasi oleh Pemerintah Kelurahan Sketeng. Namun, dalam proses mediasi di Kantor Kelurahan Seketeng itu, inisial IS tak mengakui keabsahan sertipikat itu.

“Ya, inisial IS, mengakui kalau tanah dijualnya ke pembeli bernama Nurhayati Al Bari itu, adalah tanah kami,” pungkas Nurhayati berdarah Bima itu.

Hingga berita ini dirilis, Kasat Reskrim Polres Sumbawa, belum bisa dikonfirmasi. (Habe)

Artikel sebelumyaOktavia Anjani Penderita ITP Kronis, Orang Tuanya Minta Uluran Tangan Pemerhati
Artikel berikutnyaTim Cerdas Cermat SMPN 2 Madapangga Pecah Rekor Teratas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here