Beranda Daerah Petugas PKM Madapangga “Lalai”, Pintu Pagar Disegel

Petugas PKM Madapangga “Lalai”, Pintu Pagar Disegel

4
0

BIMA, LintasRakyat.Net – Pintu Pagar Puskesmas Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, NTB dilakukan penyegelan oleh Syaiful selaku paman pasien yang mengalami kritis pada Sabtu (10/01/2021) sekitar pukul 11.55 WITA malam.

Syaiful mengatakan penyegelan pintu pagar itu karena merasa kecewa terhadap pihak puskesmas yang “lalai” dan tidak memberikan pertolongan pertama terhadap ponaannya saat dalam keadaan kritis yang berujung meninggal dunia.

“Saya merasa kecewa terhadap dokter yang tidak ada di PKM untuk memberikan pertolongan pertama terhadap pasien (ponakan) yang lagi kritis dan membutuhkan pertolongan dari dokter tersebut,”katanya, Minggu (10/01/2021) pagi.

Selaku paman lanjut Syaiful, mengharapkan kepada Bupati dan Dinas Kes Kab. Bima, agar mengambil tindakan tegas terhadap kepala puskesmas dan dokter itu.

“Copot mereka yang tidak bekerja sesuai tugas yang diembannya dalam melakukan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan pertolongan,”tegas Syaiful.

Dan semua mobil ambulance tambah Syaiful, itu harus difungsikan dengan baik untuk membantu masyarakat.

“Semua petugas yang ditugaskan di UGD harus petugas yang benar-benar siap dan tanggap memberikan pertolongan kepada pasien,”pungkas Syaiful.

Sementara itu, DR. Fitri menyatakan pasien kritis langsung diintruksikan untuk rujuk karena pasien2 kritis membutuhkan penanganan lebih lanjut dan butuh monitoring ketat dan semua itu tidak ada di fasilitas puskesmas.

Fitri mengatakan pasien intoksikasi /keracunan itu harus dilakukan kumbah lambung sedangkan di puskesmas tidak tersedia fasilitas tersebut.

“Karena pasien datang dalam kondisi kritis, saya langsung instruksikan untuk dibawa ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut /RS terdekat. Saya sarankan ke RS Sondosia,”ungkap Fitri ketika dikonfirmasi melalui chat WhatsAppnya, Minggu (10/1/2021) sekitar pukul 14.10 WITA siang.

Wewenang puskesmas lanjut dia, hanya untuk penanganan awal, dan telah dilakukan penanganan awal berupa pemeriksaan vital sign, dan pemasangan infus, dan selanjutnya direncanakan segera rujuk ke RS terdekat (Sondosia).

“Hanya itu yang bisa dilakukan untuk setingkat puskesmas,”katanya.

Dia mengakui kalau tadi malam dan saat pasien mengalami kritis itu memang tidak ada di puskesmas.

“Benar, saya tidak ada di puskesmas karna keterbatasan tenaga dokter. Dan dokter yang satunya barusan dipindahkan. Jadi, saya sendiri di puskesmas. Klo pagi sesuai jam kerja dan malam on call,”jelas Fitri.

Fitri menambahkan bila kasus gawat yang membutuhkan penanganan cepat dan di puskeamas tidak ada obat dan alat untuk menanganinya.

“Jadi untuk memotong timing supaya tidak lama-lama di puskesmas langsung dirujuk,”tutup Fitri. (Habe)

Artikel sebelumyaBustanul : Eksistensi Bhabinkamtibmas dan Babinsa Patut Diacungi Jempol
Artikel berikutnyaAbdul Chair Asal Sakuru 5 Tahun Lumpuh, Sang Putranya Harap Ada Perhatian Pemerintah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here