Beranda Hukrim KPAI : Kasus Bunuh Diri Siswa SMP di Tarakan Karena PJJ Bukan...

KPAI : Kasus Bunuh Diri Siswa SMP di Tarakan Karena PJJ Bukan Kasus Pertama

65
0

Jakarta, Lintas Rakyat.Net –Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menyatakan kasus bunuh diri Siswa SMP (15) di Tarakan pada 27 Oktober 2020 karena PJJ bukan kasus pertama.

Katanya, kasus merenggut nyawa korban tersebut kerap terjadi. Sebelumnya, di bulan yang sama, siswi (17) di Kabupaten Gowa juga bunuh diri karena depresi menghadapi tugas-tugas sekolah yang menumpuk selama PJJ fase kedua. Sedangkan pada September 2020, seorang siswa SD (8) mengalami penganiayaan dari orang tuanya sendiri karena sulit diajari PJJ.

Ya, ada 3 nyawa anak yang menjadi korban karena beratnya PJJ selama pandemic,”ungkapnya, Jumat (30/10).

Oleh karena itu, lanjut Retno, KPAI Menyampaikan rekomendasi sebagai berikut :

  1. KPAI mendorong Kemdikbud RI, Kementerian Agama RI, Dinas-dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada fase kedua yang sudah berjalan selama 4 bulan. Tidak ada kasus bunuh diri siswa, bukan berarti sekolah atau daerah lain, PJJ nya baik-baik saja, bisa jadi kasus yang mecuat ke public merupakan gunung es dari pelaksanaan PJJ yang bermasalah dan kurang mempertimbangkan kondisi psikologis anak, tidak didasarkan pada kepentingan terbaik bagi anak;
  2. KPAI akan bersurat pada pihak-pihak terkait untuk pencegahan dan penanganan peserta didik yang mengalami masalah mental dalam menghadapi PJJ di masa pandemic, mengingat PJJ secara daring berpotensi membuat anak kelelahan, ketakutan, cemas, dan stress menghadapi penugasan yang berat selama PJJ. Para guru Bimbingan Konseling (BK) dapat diberdayakan selama PJJ di masa pandemic, sehingga masalah gangguan psikologis pada para siswa dapat diatasi segera untuk mencegah peserta didik depresi hingga bunuh diri. Walikelas dan guru kelas seharusnya dibantu dan dilatih untuk mampu memetakan dan mendeteksi siswa yang dapat mengikuti PJJ daring dan yang tidak, untuk siswa yang mengalami kesulitan mengikuti PJJ, maka pihak sekolah harus berkoordinasi dengan orangtuanya dan bersinergi membantu kesulitan anaknya;
  3. KPAI mendorong Kemdikbud mensosialisasikan secara massif Surat Edaran Sesjen Kemdikbud No. 15 tahun 2020 tentang tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran tersebut, dinyatakan bahwa tujuan pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua. Banyak sekolah dan daerah belum memahami panduan PJJ dalam SE Sesjen Kemdikbud ini;
  4. KPAI juga mendorong Pemerintah Daerah Tarakan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta P2TP2A Tarakan untuk memberikan layanan rehabilitasi psikologi pada ibu korban maupun saudara kandung korban jika dibutuhkan keluarga korban, tentu harus diawali dengan asesmen psikologi oleh psikolog dari Dinas PPPA Kota Tarakan;
  5. Pada minggu ketiga November 2020, KPAI akan menyelenggarakan rapat koordinasi nasional untuk membahas hasil pengawasan bidang pendidikan selama pandemic covid 19 mulai dari persoalan PJJ sampai persiapan buka sekolah. Rakornas ini akan melibatkan seluruh stake holder pendidikan, Kemdikbud, Kemenag, KPPPA termasuk perwakilan sekolah. (Rls/RED)
Artikel sebelumyaKPAI : PJJ Kembali Memicu Depresi, Siswa SMP di Tarakan Akhiri Hidupnya
Artikel berikutnyaKodim 1608/Bima Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here